Di banyak komunitas masyarakat adat dan kelompok penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Nusantara, penggunaan dupa dan menyan merupakan bagian penting dalam rangkaian pelaksanaan ritus upacara. Keduanya dibakar. Asapnya naik. Aromanya menyebar.
Praktik penggunaan dupa dan menyan bukanlah sesuatu hal yang baru. Ia sering digunakan di dalam ritus upacara selamatan, pengurusan jenazah, penanaman, panen, pernikahan, maupun ritus-ritus adat lainnya.
Di kalangan sejumlah komunitas masyarakat adat di Tanah Batak, menyan atau haminjon dipakai dalam ritual terkait panen getah. Di Jawa, ngukus dengan kemenyan atau dupa menjadi bagian ritus kematian.
Sedangkan di Bali dan komunitas Hindu lainnya, dupa menjadi bagian dari ritual persembahyangan. Di Dayak dan beberapa kelompok adat lain, asap wewangian ikut dalam upacara syukur panen atau pembersihan kampung.
Cara penggunaan dupa dan menyan itu sendiri tidak melulu seragam. Ada yang memakai menyan murni, ada yang memakai dupa batang, ada yang mencampur keduanya. Yang sama adalah kehadiran asap dan aroma dalam ruang ritual.
Asal-usul Penggunaan
Asal-usul penggunaan dupa dan menyan di Nusantara terkait perdagangan resin dan kontak antar kebudayaan. Kemenyan Sumatra, yang berasal dari getah pohon Styrax benzoin dan spesies Styrax lainnya, sudah diperdagangkan paling tidak sejak abad ke-8. Barus di pesisir barat Sumatra dikenal sebagai penghasil kemenyan berkualitas. Resin ini ikut dalam jalur dagang yang menghubungkan wilayah Nusantara dengan India, Timur Tengah, dan Asia daratan.
Frankincense dari Boswellia dan myrrh dari Commiphora juga masuk lewat jalur yang sama, meski pohonnya tidak tumbuh di sini. Kayu cendana dan gaharu lantas termasuk juga menjadi bagian dari daftar bahan aromatik yang beredar.
Ketika kemudian sejumlah agama-agama dunia (world religions) masuk ke wilayah Nusantara, praktik membakar wewangian tidak sepenuhnya hilang. Ia beradaptasi, dan sebagian masyarakat yang sudah memeluk salah satu dari agama-agama dunia, masih mempraktikkan penggunaan dupa dan menyan juga.
Di dalam komunitas adat yang masih menjaga sistem kepercayaan lokal, dupa dan menyan tetap dipakai sebagai bagian dari upacara yang melibatkan leluhur, penguasa alam, atau Tuhan. Di kelompok penghayat kepercayaan, keduanya sering hadir dalam ritus yang menekankan hubungan dengan yang gaib dan dengan para leluhur.
Bahan Pembuatan
Bahan pembuatan dupa cukup beragam. Intinya adalah campuran bahan aromatik yang bisa dibakar. Resin kemenyan sering menjadi salah satu komponen. Kayu cendana (Santalum album), gaharu, serbuk kayu jati atau kayu lain yang dihaluskan, kapur barus, dan bunga kering juga dapat dipakai.
Perekat alami seperti bubuk dari kulit kayu Litsea glutinosa atau gum Arabic menyatukan adonan. Air dan minyak nabati atau minyak atsiri ditambahkan agar pasta bisa dibentuk. Ada yang dicetak menjadi batang dengan inti bambu, ada yang dibuat kerucut, ada yang berbentuk bubuk lepas.
Di beberapa tempat, dupa modern memakai serbuk kayu, kalsium, dan pewarna. Aroma akhir bergantung pada formula: ada yang wangi cendana, ada yang lebih tajam karena kemenyan, ada yang dicampur rempah atau minyak esensial. Prosesnya sederhana. Bahan dihaluskan, dicampur, dibentuk, lalu dijemur hingga kering.
Sedangkan menyan atau kemenyan, bahannya bersifat lebih spesifik. Ia adalah resin yang diambil dari pohon Styrax, terutama Styrax benzoin (kemenyan durame) dan Styrax paralleloneurus (kemenyan toba atau bulu) yang tumbuh di Sumatra, khususnya Tapanuli dan sekitarnya. Pohon disadap setelah mencapai usia tertentu, biasanya tujuh hingga sepuluh tahun. Kulit batang dilukai. Getah keluar, mengeras, lalu dikumpulkan.
Getah berkualitas baik berwarna kuning kecokelatan hingga putih keabu-abuan, keras tapi rapuh, dan beraroma khas. Kandungan utamanya meliputi asam benzoat, asam sinamat, vanilin, dan senyawa balsamik lain. Setelah dikumpulkan, resin disortir berdasarkan kualitas, dibersihkan, dan dikeringkan.
Tidak ada proses rumit. Yang ada adalah ketelitian dalam penyadapan agar pohon tetap hidup dan getah yang dihasilkan bersih. Kemenyan Sumatra berbeda dari frankincense Boswellia yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika, meski keduanya sering disebut menyan dalam percakapan sehari-hari.
Fungsi Kegunaan
Terdapat sejumlah fungsi daripada penggunaan dupa dan menyan dalam ritus upacara adat. Yang paling jelas adalah menghasilkan asap dan aroma. Asap memenuhi ruang. Aroma menutupi bau lain, menenangkan, atau sekadar membuat suasana berbeda dari keseharian.
Dalam banyak komunitas, keduanya dipakai untuk membersihkan aura dan suasana tempat upacara. Ruang dianggap perlu dibersihkan sebelum mantra, kidung, sesaji, atau prosesi penghormatan kepada leluhur dimulai.
Di beberapa tradisi, asap dianggap membawa doa atau ucapan ke atas. Di upacara kematian, dupa atau menyan dibakar sebagai penghormatan terakhir atau untuk mengiringi prosesi. Di selamatan dan upacara syukur, keduanya menjadi bagian dari rangkaian yang menandai dimulainya acara.
Di komunitas penghayat kepercayaan, dupa dan menyan sering dipakai dalam ritus meditatif hingga yang melibatkan komunikasi dengan yang gaib. Selebihnya, terdapat pula fungsi yang praktis: untuk mengusir serangga, mengharumkan ruangan, dan memberi tanda bahwa upacara sedang berlangsung.
Cara penggunaannya relatif seragam meski detailnya berbeda antar daerah. Menyan biasanya diletakkan di atas bara api di dalam wadah yang disebut paddupan, pedupaan, atau sejenisnya. Bara bisa dari tempurung kelapa, kayu, atau arang. Resin ditaburkan. Asap naik.
Dupa batang dibakar ujungnya lalu ditancapkan di tempat yang aman, atau diletakkan di wadah khusus. Dupa kerucut atau bubuk dibakar langsung di atas permukaan yang tahan panas.
Dalam upacara yang dipimpin tetua atau pemangku adat, pembakaran sering disertai kidung dan mantra. Asap dibiarkan menyebar ke seluruh ruang. Di beberapa tempat, dupa atau menyan dibakar di awal acara, di tengah, atau di akhir, tergantung urutan ritus. Yang penting adalah kontrol api agar tidak membakar barang lain dan asap tidak terlalu tebal hingga mengganggu pernapasan peserta.
Makna Simbolis
Sebagian kalangan memberikan makna simbolis pada penggunaan dupa dan menyan, di mana ia berpusat pada asap. Asap naik ke atas. Dalam banyak penafsiran, gerakan itu digambarkan sebagai perantara antara dunia manusia dan yang di atas atau yang gaib. Mantra, kidung, ucapan, atau niat dianggap ikut terbawa.
Aroma yang harum dikaitkan dengan kesucian ruang atau kehadiran yang dihormati. Dalam tradisi Jawa, ada ungkapan yang menghubungkan asap dengan tali keimanan dan cahaya yang menuju langit. Di komunitas lain, asap menandai bahwa ruang sudah siap untuk upacara. Pembakaran dupa dan menyan juga bisa diartikan sebagai penghormatan kepada leluhur atau penguasa tempat.
Tidak semua orang dalam satu komunitas memegang makna yang sama. Ada yang melihatnya sebagai bagian wajib ritus. Ada yang melihatnya sebagai kebiasaan yang sudah turun-temurun. Ada yang memakai karena aroma saja. Yang jelas, dupa dan menyan tidak berdiri sendiri. Mereka menjadi satu elemen dalam rangkaian yang lebih besar: sesaji, mantra, kidung, gerakan tubuh, dan kehadiran orang-orang yang terlibat.
Penggunaan dupa dan menyan terus berlangsung hingga kini karena masih tersedianya bahan, cara pakainya sederhana, dan ritus yang memerlukannya masih dijalankan. Di tengah perubahan sosial dan arus modernisasi, praktik ini masih bertahan di komunitas yang masih menjaga upacara adat dan di kelompok penghayat sebagai bagian dari cara mereka untuk berhubungan dengan yang ada di dalam dan di luar diri. []

