Site icon PASAGI – Centre for Indonesian Indigenous Studies

Ilmu Pangiwa atau Ilmu Kiri

Di Bali, istilah “ilmu pangiwa” merujuk pada jalur praktik kebatinan-spiritual yang berada di sisi kiri dalam kerangka dualitas spiritual masyarakat Bali. Kata “pangiwa” itu sendiri berasal dari akar kata “kiwa”, yang berarti kiri, yang kemudian membentuk sebutan bagi rangkaian teknik olah batin, mantra, dan visualisasi yang diarahkan pada pengolahan energi yang bersifat keras, panas, dan sering dikaitkan dengan kekuatan destruktif.

Lawan dari “Pangiwa” disebut sebagai “Panengen”, yakni jalur kanan yang lebih condong pada penjagaan harmoni dan pengobatan. Keduanya bukan sekadar pembagian baik-buruk (dualisme – oposisi biner) yang kaku, melainkan dua kutub yang saling mengisi dan menyeimbangi dalam sistem rwa bhineda. Posisi biner semacam inilah yang menjadi salah satu ciri khas dalam kosmologi adat-spiritual Bali.

Uraian mengenai ilmu pangiwa tercantum di sejumlah lontar-lontar khusus, seperti Lontar Dasar Pangiwa, Aji Pengleakan, dan sejumlah naskah kawisesan lainnya. Isi daripada lontar-lontar tersebut memuat berbagai mantra, aksara modre, serta petunjuk olah napas dan olah pikiran yang diarahkan pada pembangkitan energi dalam tubuh.

Bagi banyak orang awam, Ilmu Pangiwa kerap dikaitkan juga dengan “leak” atau “pangleakan”, yaitu kemampuan mengubah wujud atau mengirim pengaruh negatif. Namun, sejumlah kajian menjelaskan bahwa perubahan wujud yang disebut-sebut itu lebih merupakan permainan energi dan bayangan mental, bukan transformasi fisik yang mutlak. Tubuh praktisi tetap berada di tempatnya, sementara energi yang digarap dilepaskan dalam bentuk tertentu yang dapat ditangkap oleh indra orang lain.

Ilmu pangiwa tidaklah berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari tradisi meditasi tantra yang sudah lama hidup dan berkembang di Nusantara sejak zaman dahulu kala sampai saat ini. Ajaran dan praktik tantra di Bali sendiri merupakan hasil sinkretisme ajaran Siwa-Buddha yang kemudian mengalami adaptasi lokal.

Dalam konteks tradisi tantra klasik, jalur kiri disebut juga sebagai “vamacara” atau “vama-marga”, sementara jalur kanan disebut “dakshinacara”. Vamacara ditandai oleh pendekatan yang lebih ekstrem: praktisi memasuki wilayah yang biasanya dihindari, seperti setra (kuburan), malam hari, atau simbol-simbol yang berkaitan dengan kematian dan kehancuran, untuk kemudian mengubah energi tersebut menjadi kekuatan batin.

Di Bali, pendekatan ini diwujudkan dalam praktik meditasi yang melibatkan visualisasi aksara terbalik (ongkara sungsang), pengolahan api batin, serta konsentrasi pada cakra tertentu.

Putu Yudiantara (2019) dalam “Ilmu Tantra Bali: Memetakan Ajaran Spiritual Para Leluhur” menjelaskan bahwa ajaran pangiwa dan panengen merupakan kelanjutan dari ajaran tantra yang pernah berkembang di Jawa dan kemudian bertahan di Bali setelah masa Majapahit.

Ia mencatat bahwa praktik-praktik tersebut mencakup meditasi api, pengolahan dasa bayu, sastra sanga, dan sastra pralina. Semua itu merupakan teknik yoga tantra yang bertujuan membangkitkan kundalini, energi yang digambarkan sebagai kekuatan murni di dasar tulang belakang.

Dalam Lontar Dasar Pangiwa, proses memasukkan aksara suci ke dalam tubuh justru menjadi cara untuk mengaktifkan energi tersebut. I Wayan Suartika dalam kajiannya tentang kundalini dalam lontar menyebutkan bahwa setiap mantra dalam naskah selalu menyebut simbol-simbol ketuhanan. Niat pengguna saat merapalkan mantralah yang menentukan arah energi yang akan dihasilkan.

C. Hooykaas (1980) dalam “Drawings of Balinese Sorcery” menyajikan sejumlah dokumentasi visual dan komentar atas berbagai sarana magis Bali, termasuk yang berkaitan dengan pangiwa. Ia mencatat adanya rangkaian mantra dan gambar yang digunakan untuk perlindungan maupun serangan niskala.

Hooykaas memperlihatkan bahwa praktik-praktik tersebut tidak berdiri terpisah dari sistem keagamaan yang lebih luas, melainkan terintegrasi dalam ritual dan keyakinan sehari-hari. Andrea Acri (2021) dalam kajiannya tentang unsur “demonic numinous” dalam sastra dan seni Jawa-Bali juga menunjukkan bahwa motif-motif kekerasan, transgresi, dan kekuatan gelap dalam tradisi tantra Nusantara berfungsi sebagai sarana untuk mengakses kekuasaan spiritual yang bersifat cepat dan intens.

Dalam praktik meditasi tantra pangiwa, tubuh diperlakukan sebagai medan energi. Untuk itu, ada tahap pembersihan unsur (bhuta sudhi) yang sering dilakukan di dapur, tempat api paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ritual ini memohon berkah kepada Bhagawan Mercukunda, sosok yang dihubungkan dengan pengolahan api.

Selanjutnya praktisi melakukan japa mantra pada waktu-waktu tertentu, biasanya pada tilem atau kajeng kliwon, tengah malam. Visualisasi diarahkan pada pusat-pusat energi di tubuh, dengan aksara yang diputar berlawanan arah dibanding jalur panengen. Hasil yang diharapkan adalah siddhi, kemampuan batin tertentu, baik untuk pertahanan diri maupun untuk tujuan lain yang ditentukan niat.

Alasan-alasan Mendalami Ilmu Kiri

Mengapa sebagian orang memilih mendalami dan mempraktikkan ilmu pangiwa? Terhadap pertanyaan ini, rupanya jawabannya tidaklah tunggal.

Di era kekuasaan kerajaan-kerajaan di masa lampau, ilmu ini menjadi bagian dari kurikulum pendidikan bagi kalangan ksatria. Sejarah mencatat bahwa para punggawa dan raja memanfaatkan kekuatan batin untuk pertahanan wilayah. Ritual di pura dalem dan setra digunakan untuk membangun benteng niskala.

Dalam konteks itu, pangiwa bukan sekadar alat menyerang, melainkan sarana menjaga kelangsungan kekuasaan dan keamanan komunitas. Hingga kini, sebagian praktisi masih melihatnya sebagai warisan yang perlu dijaga agar tidak hilang.

Selain itu, ada juga yang mendekati ilmu ini karena penasaran dan rasa ingin tahu terhadap sisi lain dari dualitas. Dalam masyarakat yang terobsesi dengan narasi kesucian dan keteraturan, jalur kiri menghadirkan ruang untuk menghadapi ketakutan, kematian, dan energi yang biasanya ditekan. Meditasi di setra atau visualisasi bentuk-bentuk menyeramkan menjadi latihan untuk tidak lari dari bayangan gelap dalam diri.

Bagi sebagian orang, pengalaman spiritual tersebut menghasilkan ketahanan mental yang lebih tinggi. Mereka yang pernah mengalami serangan niskala atau merasa rentan terhadap pengaruh negatif kadang mencari pengetahuan pangiwa sebagai bentuk perlindungan.

Selain alasan-alasan di atas, terdapat juga alasan lain yang lebih bersifat praktis. Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang merasa perlu memiliki kemampuan untuk menangkal gangguan, baik yang bersifat sosial maupun yang dianggap berasal dari alam niskala. Ilmu pangiwa, ketika dikuasai dengan disiplin dan konsistensi, dianggap mampu memberikan rasa aman.

Meski demikian, banyak penekun lontar menerangkan bahwa energi yang digarap bersifat netral. Jika niat buruk, hasilnya merugikan; jika niat jernih, energi yang sama dapat digunakan untuk menjaga diri.

I Wayan Sukayasa dalam sejumlah wawancaranya menerangkan bahwa pengguna jalur kiri harus mampu memancing frekuensi emosi target agar energi tersambung. Sebaliknya, orang yang menjaga pikiran, kata, dan perbuatan tetap stabil sulit dijangkau.

Praktik ilmu pangiwa itu sendiri menuntut kedisiplinan tinggi. Olah napas, olah fisik, dan olah pikiran dilakukan berulang dalam jangka waktu lama. Tanpa guru yang kompeten, risiko kesalahan besar. Banyak lontar yang berisi ajaran ini disimpan secara terbatas, diwariskan hanya kepada orang yang dianggap siap.

Di era modern, minat terhadap ilmu ini mengalami pasang surut. Sebagian generasi muda menjauhinya karena stigma, sementara sebagian lain justru mencari karena rasa penasaran terhadap warisan leluhur yang mulai pudar.

Dalam konteks tantra, pangiwa berarti juga jalur nivrtti, yakni jalan kembali atau peleburan. Berbeda dengan panengen yang lebih menekankan pemeliharaan tatanan sosial, pangiwa mengarah pada transformasi cepat melalui konfrontasi dengan unsur-unsur yang dianggap kotor atau berbahaya.

Praktisi membalik aliran energi, membakar kekotoran karma dengan api batin, dan dalam proses itu mencoba mencapai kebebasan. Yudiantara (2019) mencatat bahwa di balik label “ilmu hitam”, terdapat sistem yoga yang lengkap, mencakup meditasi, visualisasi, dan pengendalian bayu.

Dinamika Spiritual Kontemporer

Masih hangatnya perbincangan mengenai fenomena leak di masyarakat Bali menunjukkan bahwa keyakinan terhadap kemampuan mengubah wujud masihlah hidup hingga saat ini. Namun begitu, dalam kajian Nengah Bawa Atmadja dan rekan-rekannya (2015), tampak bahwa stereotip gender masih kerap menyertai narasi tentang leak, di mana praktisi perempuan lebih sering dikaitkan dengan sisi negatif. Hal ini mencerminkan dinamika kekuasaan dalam masyarakat, bukan semata-mata isi ajaran itu sendiri.

Ilmu pangiwa masih tetap menjadi bagian dari dinamika kontemporer mengenai realitas kehidupan spiritual Bali yang kompleks. Ia tidak mudah dipisahkan dari konteks tantra yang lebih luas, di mana dualitas kiri-kanan berfungsi sebagai mekanisme keseimbangan.

Bagi mereka yang menekuninya, praktik ini menjadi cara untuk menguji batas-batas kesadaran, menghadapi sisi gelap, dan dalam beberapa kasus, memperoleh kemampuan yang dianggap berguna dalam menjaga diri. Bagi yang menjauhinya, ia tetap menjadi bayangan yang mengingatkan bahwa dalam sistem kosmologi Bali, terang dan gelap selalu hadir berdampingan.

Sejumlah sumber-sumber tertulis, baik lontar maupun kajian modern, menunjukkan bahwa ilmu pangiwa bukan sekadar kumpulan mantra untuk mencelakai. Ia merupakan sistem olah batin yang berakar pada tradisi meditasi tantra, dengan teknik-teknik yang spesifik dan tujuan yang bergantung pada niat serta disiplin praktisinya.

Di dalam tradisi sejarah Bali di masa lampau, jalur kiri ini telah dijalani oleh raja, ksatria, maupun penekun perorangan, masing-masing dengan alasan dan hasil yang berbeda. Dengan demikian, keberadaan ilmu pangiwa atau ilmu kiri ini bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi spiritual Nusantara. []

Exit mobile version