Banyak komunitas masyarakat adat di berbagai belahan dunia memandang wilayah tempat mereka tinggal bukanlah sekadar sebidang tanah atau hutan. Bagi mereka, wilayah itu menjadi pusat alam semesta (pusat kosmos), di mana tempat langit, bumi, dan dunia bawah bertemu. Konsep ini dikenal sebagai axis mundi, atau poros dunia.
Konsep axis mundis pada masyarakat adat umumnya muncul di berbagai tradisi lisan, mitos, ritual, hingga cara hidup sehari-hari masyarakat adat. Dari pegunungan di Bali hingga hutan di Banten, dari gunung di Tibet hingga tempat-tempat suci di berbagai tradisi masyarakat adat di benua Amerika, pola yang sama terus berulang.
Axis Mundi sebagai Titik Temu Langit dan Bumi
Istilah “Axis mundi” berasal dari bahasa Latin, yang artinya adalah “poros” atau “sumbu” dunia. Ia menandai tempat di mana dunia sakral dan dunia biasa saling berhubungan.
Mircea Eliade (1907-1986), seorang ahli sejarah agama, menjelaskan bahwa setiap komunitas yang hidup secara religius memiliki pusat. Pusat itu bukan hanya lokasi geografis, melainkan titik di mana kekuatan yang lebih tinggi menampakkan diri. Melalui hierophany, yang sakral mengungkapkan kehadirannya lewat batu, pohon, gunung, mata air, atau bahkan bangunan sederhana.
Di banyak tradisi, gunung sering menjadi wujud axis mundi. Gunung Agung di Bali, misalnya, dipandang masyarakat Hindu Bali sebagai replika Gunung Meru, pusat alam semesta. Di lerengnya berdiri Pura Besakih, pura terbesar dan paling penting di pulau itu. Masyarakat setempat meyakini gunung ini sebagai tempat bersemayam para dewa.
Kehadiran gunung yang menjulang tinggi menciptakan rasa kedekatan dengan dunia atas. Hujan yang turun dari puncaknya, sungai yang mengalir dari lerengnya, dan kabut yang menyelimutinya menjadi tanda hubungan langsung antara langit dan kehidupan manusia.
Pola serupa terlihat di Gunung Kailash di Tibet. Bagi penganut Hindu, Buddha, Jain, dan Bon, gunung itu dianggap pusat kosmos. Bentuknya yang simetris dan isolasinya di dataran tinggi memperkuat kesan sebagai tiang yang menopang langit.
Empat sungai besar Asia mengalir dari wilayah sekitarnya, menambah bobot simbolik sebagai sumber kehidupan. Masyarakat lokal di sekitarnya melakukan ritual keliling gunung, melihat perjalanan itu sebagai perjalanan mengelilingi pusat dunia.
Konsep axis mundi lainnya juga muncul di tempat lain meskipun tempat tersebut tidak berbentuk bukan gunung. Ka’bah di Mekkah menjadi pusat orientasi salat umat Islam di seluruh dunia dan dianggap sebagai titik pusat bumi. Holy of Holies di Bait Suci Yerusalem dulu bagi orang-orang Yahudi menjadi ruang paling sakral yang hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu.
Selebihnya, di berbagai budaya lainnya, konsep axis mundi diwujudkan ke dalam bentuk pohon besar, tiang totem, atau bentuk bangunan rumah yang dianggap sebagai poros yang menghubungkan tiga lapisan dunia: langit di atas, bumi di tengah, dan dunia bawah di bawah.
Bagi kebanyakan masyarakat adat, apa yang disebut sebagai axis mundi bukanlah teori abstrak. Ia menjadi titik pijak dalam menata kehidupan.
Wilayah adat dianggap pusat karena di sanalah leluhur pertama kali menetap, di sanalah kisah penciptaan kehidupan paling awal hadir dan berlangsung. Dan di sana pulalah kekuatan yang menjaga keseimbangan alam masih aktif. Ketika seseorang berdiri di wilayah itu, ia sedang berada di tengah-tengah suatu tatanan kosmis yang utuh.
Jejak Axis Mundi di Masyarakat Adat
Di Indonesia, contoh yang jelas terlihat pada masyarakat adat Kanekes di Lebak, Banten. Wilayah Kanekes, terutama kampung-kampung dalam, dipandang sebagai ruang yang harus dijaga ketat.
Situs Arca Domas yang terletak di Sasaka Domas menjadi pusat spiritual mereka. Tempat itu tersembunyi di hutan lebat dan terdiri dari teras-teras batu yang berkaitan dengan struktur alam semesta menurut mitos Baduy.
Di sanalah masyarakat adat Kanekes bersembahyang kepada Sang Hyang Batara Tunggal, dan melakukan pengormatan kepada para leluhurnya. Isolasi kawasan semacam ini bukanlah sekadar penolakan terhadap dunia luar, melainkan cara mereka menjaga kesucian pusat dunia mereka.
Masyarakat Adat Kanekes membagi wilayah menjadi zona dengan tingkat kesakralan berbeda. Masyarakat Adat Kanekes Dalam menjaga aturan paling ketat, sementara Masyarakat Adat Kanekes Luar menjadi penghubung dengan dunia luar.
Aturan adat mengatur hampir setiap aspek kehidupan: cara bertani, berpakaian, hingga cara berbicara. Semua itu bertujuan menjaga agar pusat dunia tetap bersih dari gangguan. Bagi mereka, meninggalkan adat berarti meninggalkan pusat yang menghubungkan mereka dengan kekuatan leluhur.
Di Bali, orientasi rumah, pura, dan desa selalu mengarah ke Gunung Agung. Arah kaja-kelod (menuju gunung dan menuju laut) menjadi acuan utama. Rumah dibangun dengan ruang sakral di bagian yang menghadap gunung.
Ritual sehari-hari, dari sesajen kecil hingga upacara besar, selalu melibatkan orientasi ke pusat itu. Ketika gunung meletus, masyarakat melihatnya sebagai pesan dari dunia sakral, bukan sekadar peristiwa alam.
Di luar Indonesia, pola yang mirip muncul di banyak tempat. Masyarakat Pitjantjatjara di Australia memandang Uluru sebagai pusat dunia mereka. Orang Sioux di Amerika Utara menganggap Black Hills sebagai axis mundi.
Di Amerika Selatan, pyramid-pyramid kuno dibangun sebagai tangga menuju langit, sering kali di atas gua atau mata air yang dianggap pintu menuju dunia bawah. Di Afrika, gunung-gunung seperti Kilimanjaro atau Kenya juga diperlakukan sebagai tempat tinggal dewa atau roh leluhur.
Di Nusa Tenggara Timur, rumah adat Uma Tetun bagi suku di Belu dipandang sebagai pusat dunia. Rumah itu menjadi tempat pertemuan antara langit, bumi, dan dunia bawah melalui praktik hidup sehari-hari. Simbol-simbol di dalamnya, mitos yang diceritakan, dan ritual yang dilakukan semuanya mengukuhkan rumah sebagai poros yang menjaga keseimbangan komunitas.
Kesamaan di berbagai tempat ini menunjukkan bahwa axis mundi muncul dari pengalaman manusia yang menghadapi dunia sebagai sesuatu yang terbagi antara yang sakral dan yang biasa.
Manusia mencari titik di mana ia bisa berhubungan dengan kekuatan yang lebih besar. Wilayah adat menjadi titik itu karena di sanalah sejarah, pengetahuan leluhur, dan kehidupan sehari-hari saling terjalin.
Cara Mengalami Ruang
Pandangan bahwa wilayah adat adalah axis mundi lahir dari cara masyarakat adat mengalami ruang. Bagi mereka, apa yang disebut sebagai ruang bukanlah suatu objek netral tanpa nilai. Ada ruang yang penuh kekuatan dan ada ruang yang biasa.
Hierophany membuat objek atau tempat tertentu menjadi berbeda. Sebuah gunung bukan sekadar formasi geologi; ia menjadi tempat dewa turun. Sebuah hutan bukan hanya kumpulan pohon; ia menjadi rumah roh yang menjaga kehidupan.
Mitos penciptaan sering menempatkan wilayah adat sebagai tempat pertama kali manusia muncul atau tempat dewa menciptakan dunia. Ketika leluhur menetap di suatu tempat, mereka menandai pusat.
Generasi berikutnya mewarisi pusat itu melalui ritual, larangan, dan cerita. Setiap upacara yang dilakukan di wilayah itu memperbarui hubungan dengan pusat. Setiap aturan adat yang ditaati menjaga agar pusat tetap utuh.
Axis mundi juga memberi rasa keteraturan. Di luar wilayah adat, dunia terasa kacau dan asing. Di dalam wilayah, tatanan kosmis berlaku.
Arah mata angin, posisi rumah, waktu tanam, dan cara berburu semuanya diatur berdasarkan orientasi ke pusat. Orang merasa aman karena tahu di mana ia berdiri dalam keseluruhan alam semesta.
Hubungan dengan leluhur memperkuat pandangan ini. Leluhur dianggap masih hadir di wilayah adat. Mereka menjadi penghubung antara manusia hidup dan dunia sakral.
Menjaga wilayah berarti menjaga hubungan dengan mereka. Merusak wilayah berarti memutus poros yang menopang kehidupan komunitas.
Dalam konteks modern kontemporer yang semakin kompleks, pandangan ini sangatlah relevan. Banyak masyarakat adat menghadapi tekanan dari luar berupa pembangunan, tambang, atau perubahan tata ruang.
Mereka bertahan karena wilayah adat bukan sekadar sumber daya ekonomi, melainkan pusat keberadaan mereka. Kehilangan wilayah berarti kehilangan poros yang menghubungkan mereka dengan langit, bumi, dan leluhur.
Axis mundi juga menjelaskan mengapa ritual keliling, naik gunung, atau berdoa menghadap pusat begitu penting. Gerakan tubuh mengikuti poros vertikal.
Naik gunung berarti mendekati langit. Mengelilingi tempat suci berarti mengelilingi pusat dunia. Doa yang naik ke atas menjadi kolom penghubung antara bumi dan langit.
Banyak masyarakat adat memandang wilayah adatnya sebagai axis mundi karena di sanalah mereka menemukan keterhubungan yang utuh. Wilayah itu menjadi tempat di mana yang sakral menampakkan diri, di mana mitos hidup kembali melalui ritual, dan di mana manusia merasa berada di tengah tatanan yang lebih besar.
Pandangan axis mundi semacam ini tidak dapat distigma sebagai suatu pengetahuan kuno, melainkan cara hidup yang terus membentuk identitas, aturan, dan hubungan mereka dengan alam. Selama komunitas masyarakat adat masih menjaga wilayahnya, poros itu tetap hidup dan terus menghubungkan langit dengan bumi. []

