Di layar film hingga di halaman-halaman novel, bayangan dunia yang distopia biasanya digambarkan sebagai kondisi di mana kota-kota tenggelam, langit berubah warna karena asap, spesies lenyap satu per satu, virus-virus berkembang dan bermutasi, hingga segelintir manusia frustasi yang tersisa hidup di sisa-sisa peradaban yang sudah hancur-lebur. Narasi-narasi distopia itu lantas digambarkan sebagai suatu peringatan, sebagai kemungkinan yang mungkin masih bisa dicegah jika kita bertindak sekarang.
Tapi ada kelompok-kelompok yang sudah melewati semua itu jauh sebelum kata “kiamat” menjadi bahan hiburan bagi industri entertainment. Bagi banyak masyarakat adat di berbagai belahan dunia, kiamat (apokalips) bukanlah proyeksi masa depan. Ia adalah catatan yang sudah tertulis di tanah, di sungai yang dikeringkan, di bahasa yang dipaksa diam, dan di tubuh-tubuh yang tidak sempat dikubur dengan cara yang mereka kenal.
Apa yang di Barat disebut sebagai skenario terburuk (kehilangan tanah, keruntuhan sistem hidup, kepunahan massal, pengusiran massal), sudah menjadi pengalaman sehari-hari bagi komunitas-komunitas masyarakat adat yang dihancurkan oleh kolonialisasi, ekstraksi, dan kebijakan negara yang menempatkan mereka sebagai penghalang. Tidak ada yang spekulatif di sana. Itu sudah terjadi, dan dampaknya masih berjalan.
Ketika Distopia Sudah Menjadi Kenyataan
Mari kita ambil contoh masyarakat First Nations di Amerika Utara. Dalam rentang beberapa abad, populasi mereka anjlok drastis karena penyakit yang dibawa dari orang-orang luar (pemukim kolonial), perang, pemindahan paksa, dan kebijakan asimilasi.
Bison yang menjadi pusat ekonomi dan budaya hampir punah. Sungai-sungai diracuni karena aktivitas pertambangan dan industri. Anak-anak diambil dari keluarga dan dimasukkan ke sekolah asrama di mana bahasa dan nama warisan kebudayaan leluhur mereka dihapus.
Peristiwa tersebut bukanlah fiksi ataupun metafora. Itu merupakan rangkaian peristiwa yang menghancurkan seluruh cara hidup dalam waktu yang relatif singkat.
Jika sebuah novel distopia menceritakan kepunahan spesies kunci, penghilangan paksa generasi muda, dan perubahan iklim lokal yang membuat tanah tak lagi bisa menopang kehidupan, cerita itu sudah ditulis di dataran Great Plains dan di pantai Pacific Northwest lama sebelum istilah “climate fiction” muncul.
Di Australia, penduduk masyarakat adat Aborigin mengalami pembantaian sistematis, keracunan sumber mata air, dan penculikan anak-anak yang dikenal sebagai Stolen Generations. Tanah yang sebelumnya dikelola dengan api terkendali dan pengetahuan lokal tentang musim, berubah menjadi ladang ternak dan tambang. Api yang dulu menjadi alat perawatan berubah menjadi ancaman yang tak terkendali setelah praktik-praktik lama dilarang.
Dan hari ini, ketika kebakaran hutan besar melanda di berbagai tempat, banyak yang berbicara seolah ini fenomena baru. Bagi mereka yang masih membawa memori kolektif, kebakaran itu hanya pengulangan dari kerusakan yang sudah dimulai ratusan tahun lalu.
Di Amazonia, komunitas-komunitas masyarakat adat yang hidup dari hutan melihat wilayah mereka dibuka untuk sawit, sapi, dan minyak. Sungai-sungai yang dulu bersih kini membawa merkuri dari pertambangan ilegal. Bahasa-bahasa lokal hilang bersama dengan pengetahuan tentang tumbuhan obat.
Kepunahan di sini tidak hanya soal punahnya sejumlah spesies hewan atau tumbuhan. Ia juga berkaitan dengan hilangnya cara melihat dunia. Ketika sebuah komunitas kehilangan kemampuan untuk menamai dan menggunakan ratusan spesies di sekitarnya, yang lenyap bukan hanya data biologis, melainkan seluruh sistem relasi yang menopang hidup mereka.
Di Indonesia sendiri, masyarakat adat di berbagai pulau mengalami pola yang sama. Hutan adat dialihkan menjadi konsesi. Suku-suku masyarakat adat di Papua, Kalimantan, dan Sumatra kehilangan akses ke wilayah jelajah. Konflik agraria berulang. Keracunan air dari tambang dan kebakaran gambut menjadi bagian dari kehidupan.
Tidak perlu menunggu tahun 2100 masehi untuk melihat sungai yang mati atau tanah yang tak lagi menghasilkan. Hal tersebut sudah ada di depan mata, dan sudah dialami oleh mereka yang namanya jarang disebut dalam laporan resmi tentang “krisis iklim global”.
Narasi distopia populer di industri hiburan hampir selalu menempatkan kehancuran sebagai sesuatu yang akan menimpa semua orang secara merata di masa depan. Padahal, kehancuran itu sudah selektif. Ia sudah menimpa kelompok-kelompok tertentu terlebih dahulu, sementara yang lain masih bisa menontonnya dari jarak aman, sebagai hiburan atau sebagai abstraksi ilmiah.
Ketika film-film fiksi dan fantasi Hollywood menggambarkan dunia pasca-kiamat dengan manusia yang berburu sisa-sisa makanan di reruntuhan, mereka seolah menemukan ide baru. Bagi banyak masyarakat adat, berburu sisa-sisa (sisa tanah, sisa bahasa, sisa ritual) sudah menjadi praktik kebudayaan harian mereka sejak lama.
Pengalaman mengalami kiamat semacam ini tentunya tidak selalu seragam. Ada komunitas masyarakat adat yang berhasil bertahan dengan cara yang berbeda, ada yang hampir hilang total, ada yang beradaptasi dengan cara yang menyakitkan.
Akan tetapi pola dasarnya berulang: sistem hidup yang kompleks digantikan oleh sistem yang lebih sederhana dan lebih rapuh, dikendalikan dari luar, dan diukur dengan logika keuntungan jangka pendek. Hasilnya adalah kerapuhan yang kemudian disebut “krisis”.
Waktu yang Berbentuk Spiral
Di banyak masyarakat adat, waktu tidak bergerak lurus dari masa lalu ke masa depan seperti panah. Ia lebih mirip spiral. Peristiwa-peristiwa penting tidak hilang di belakang. Mereka kembali, muncul lagi dalam bentuk yang berbeda, membawa jejak yang sama.
Kematian, kelahiran, musim, dan bencana bukan titik-titik yang dilewati sekali lalu ditinggalkan. Mereka adalah pola yang berulang, dan setiap pengulangan membawa beban dari yang sebelumnya.
Konsep waktu yang non-linear ini membuat cara pandang kita dalam melihat “kiamat” menjadi berbeda. Jika waktu linear, maka kiamat adalah akhir yang belum datang, sesuatu yang masih bisa dihindari dengan inovasi atau kebijakan. Akan tetapi, jika waktu berbentuk spiral, maka kiamat yang dialami oleh para leluhur tidaklah pernah benar-benar selesai.
Ia terus berputar, muncul lagi di generasi berikutnya dalam bentuk baru: tambang menggantikan senjata, undang-undang menggantikan tentara dan polisi, algoritma menggantikan daftar nama yang harus diawasi. Kerusakan yang dialami di masa lalu tidak menjadi sejarah yang sudah lewat. Ia menjadi lapisan yang menumpuk di bawah permukaan masa kini.
Bagi orang yang hidup dengan waktu spiral, cerita tentang “masa depan yang gelap” menjadi terdengar aneh. Masa depan itu sudah pernah datang. Ia datang ketika kapal-kapal pertama merapat, ketika peta-peta digambar tanpa melibatkan masyarakat adat, ketika pohon-pohon hutan pertama kali ditebang untuk dijadikan komoditas. Dan ia terus datang.
Setiap kali ada proyek baru yang menjanjikan kemajuan, spiral itu berputar lagi, membawa suara yang sama: tanah harus dilepaskan, cara hidup harus diubah, pengetahuan lama harus disimpan di museum sebagai pajangan sekaligus pameran eksotisme.
Dalam dunia dengan waktu yang berbentuk spiral, hal ini bukan berarti masyarakat adat hidup dalam dunia nostalgia tentang masa lampau. Banyak di antara mereka yang menggunakan teknologi modern, berpolitik di sistem negara, dan berdagang. Tapi cara mereka menempatkan peristiwa dalam waktu, membuat mereka relatif jarang terkejut oleh adanya pola kehancuran yang berulang.
Ketika ilmuwan berbicara tentang “titik kritis” iklim sebagai sesuatu yang akan terjadi jika emisi tidak ditekan, beberapa komunitas masyarakat adat sudah lama melihat titik-titik kritis itu di sungai mereka yang mengering, di ikan yang menghilang, hingga di anak-anak yang lahir dengan kelainan karena polusi. Bagi mereka, titik kritis bukan proyeksi. Ia adalah memori yang sedang berulang.
Dalam sirkuit waktu yang spiral, hal ini menjelaskan juga mengapa beberapa praktik ritual dan cerita lisan terus dijaga meski tekanan dari luar sangat kuat. Cerita tentang banjir besar, tentang api yang membakar dunia, tentang makhluk yang menghilang, bukan hanya mitos. Kesemuanya merupakan catatan tentang apa yang sudah terjadi dan apa yang bisa terjadi lagi.
Menjaga cerita-cerita tersebut, berarti menjaga kesadaran bahwa kehancuran tidak datang hanya sekali. Ia bisa kembali dalam bentuk yang berbeda, dan generasi berikutnya harus siap mengenalinya.
Di sisi lain, logika waktu linear yang dominan di dunia modern cenderung menghapus jejak. Apa yang terjadi pada abad ke-16 atau ke-19 dianggap sudah selesai, sudah “diatasi” oleh kemajuan.
Korban-korban dari masa itu digolongkan sebagai biaya yang harus dibayar untuk mencapai masa kini. Dengan cara itu, distopia yang sudah dialami dijadikan hanya sekadar latar belakang, bukan peringatan yang masih hidup.
Akibatnya, ketika pola yang sama muncul lagi: penggusuran untuk infrastruktur, peracunan air untuk industri, penghilangan pengetahuan lokal demi efisiensi, banyak yang memperlakukannya sebagai masalah baru, seolah belum pernah ada presedennya.
Perbedaan cara memandang waktu ini bukan soal siapa yang lebih benar secara filosofis. Ia punya konsekuensi praktis. Jika kiamat dianggap masih di depan, maka solusi bisa ditunda, dinegosiasikan, atau diganti dengan teknologi yang lebih canggih.
Jika kiamat sudah pernah datang dan masih berputar, maka yang dibutuhkan bukan lagi janji tentang masa depan yang lebih baik, melainkan pengakuan bahwa kerusakan sudah menumpuk dan terus berlanjut di tubuh-tubuh dan tanah-tanah yang sama.
Masyarakat adat yang masih bertahan hari ini membawa bukti bahwa dunia bisa hancur tanpa harus menunggu asteroid atau perang nuklir. Ia bisa hancur secara perlahan, melalui kebijakan, melalui pasar, melalui diamnya orang-orang yang menganggap kehancuran itu sebagai proses yang wajar. Dan karena waktu mereka berbentuk spiral, mereka tahu bahwa kehancuran itu tidak akan berhenti hanya karena diganti nama menjadi “pembangunan” atau “transisi energi”.
Cerita tentang dunia distopia kerap diakhiri dengan ajakan untuk bertindak sebelum terlambat. Bagi mereka yang sudah melewatinya, ajakan semacam itu terdengar seperti pesan dari masa lalu yang sama.
Yang tersisa bukan lagi pertanyaan apakah kiamat akan datang, melainkan bagaimana hidup di dalam spiral yang terus membawa kembali puing-puing yang sama, sambil tetap mencoba menamai apa yang hilang sebelum nama itu juga ikut lenyap. []