Di antara sekian banyak sosok dalam khazanah sastra dan mitologi Jawa Kuno (yang kemudian menyebar di tatar Sunda, Jawa, dan Bali), Batara Kala menempati posisi yang unik sekaligus dianggap mengganggu. Ia bukan dewa pelindung, bukan pula penegak tatanan moral.

Ia muncul sebagai raksasa pemakan waktu, sosok yang lahir dari hubungan yang tidak ideal antara Batara Guru dan Dewi Uma. Lantas kemudian, ia dihukum menjadi makhluk yang mengincar manusia yang lengah.

Nama “Kala” itu sendiri merujuk pada waktu. Konon terdapat cerita pula bahwa ia menelan matahari dan bulan pada momen gerhana, menelan manusia yang lahir pada saat-saat tertentu, dan terus mengincar apa pun yang bergerak di dalam siklus. Ia tidak marah. Ia tidak dendam. Yang ia lakukan hanyalah apa yang sudah menjadi sifatnya: melahap.

Manusia terbiasa menganggap dirinya sebagai pusat. Hampir semua filsafat, agama, ajaran moral dan etika, bahkan hingga hukum modern, lahir dari anggapan bahwa kehidupan manusia merupakan ukuran utama bagi segala sesuatu. Dunia dinilai baik sejauh berguna bagi manusia.

Teknologi lantas dipuji karena dapat memperpanjang harapan usia manusia. Negara dianggap berhasil ketika mampu menjaga kenyamanan manusia. Alam pun direduksi menjadi sekumpulan sumber daya yang tersedia untuk kepentingan manusia.

Jika humanisme dan modernitas menempatkan manusia sebagai pusat penafsiran dan ukuran segala sesuatu, maka Batara Kala bekerja dengan cara sebaliknya. Ia tidak bernegosiasi. Ia tidak menawarkan progres. Ia hanya menelan.

Dengan demikian, Batara Kala dapat dibaca sebagai representasi kekuatan antihumanis yang ‘keras kepala’: kekuatan yang menolak segala klaim manusia tentang pengendalian nasib, keberlangsungan peradaban, ataupun kemenangan akal atas kekacauan.

Cerita mengenai Sang Batara Kala menunjukkan gambaran yang lebih kasar dan lebih tua. Waktu tidak peduli pada nilai, kebebasan, atau martabat manusia. Waktu hanya berjalan, dan dalam jalannya, segala sesuatu yang hidup akhirnya masuk ke dalam mulutnya.

Waktu yang Tidak Membutuhkan Alasan

Cerita awal mula kemunculan Batara Kala adalah seperti ini. Batara Guru dan Dewi Uma sedang bercinta di atas langit. Air mani tumpah. Laut menerimanya.

Dari sanalah lahir sosok yang rakus, tanpa belas, dan tidak terikat pada waktu karena ia adalah perwujudan dan penguasa waktu itu sendiri. Ia kemudian diusir, dibuang, dan akhirnya diberi peran sebagai penjaga waktu sekaligus pemakan. Tidak ada rencana besar. Tidak ada misi moral. Hanya tumpahan, penerimaan, dan akibat.

Batara Kala berdiri di luar logika kemanusiaan yang biasa kita terima: logika tentang kemajuan, tentang penguasaan atas alam, tentang keunggulan akal budi manusia di atas segala kekuatan lain. Lantas, manusia muncul belakangan, di dunia yang sudah berisi kekuatan yang lebih tua dan lebih lapar. Batara Kala tidak menunggu izin manusia untuk menelan. Ia tidak bernegosiasi.

Namun dalam ritus adat tertentu, orang Sunda, Jawa, dan Bali masih membuat sajian khusus agar “tidak kena kala”, agar tidak lahir di saat yang dianggap berbahaya, atau agar terhindar dari gerhana yang dianggap sebagai saat ketika Kala sedang bekerja. Tindakan-tindakan itu menunjukkan adanya pengakuan praktis: ada kekuatan yang tidak bisa dibujuk dengan moral atau argumentasi manusia.

Dalam tradisi wayang dan cerita lisan, Batara Kala tidak pernah digambarkan sebagai tokoh yang bisa dijinakkan melalui dialog atau persuasi moral. Ia muncul ketika manusia lengah, ketika upacara tidak dilakukan dengan tepat, atau sekadar ketika waktu sudah sampai pada giliran tertentu.

Ia tidak peduli pada niat baik. Ia tidak membedakan antara orang saleh dan orang jahat dalam ukuran etika manusia. Yang menentukan adalah posisi seseorang di dalam sirkulasi waktu yang ia kuasai.

Pemikiran humanisme klasik-modern, terutama yang berkembang sejak Renaisance hingga abad modern, berpijak pada keyakinan bahwa manusia mampu menata dunia menurut ukuran akal dan kehendaknya. Alam bisa dikuasai, sejarah bisa diarahkan, kematian bisa ditunda melalui ilmu dan teknologi.

Batara Kala berdiri di luar seluruh kerangka itu. Ia adalah waktu yang tidak bisa diubah jalannya. Ia adalah kematian yang datang tanpa mempertimbangkan prestasi. Ia adalah gerhana yang menutup cahaya tanpa memedulikan apakah manusia sedang membangun kota atau sedang berperang.

Batara Kala bahkan digambarkan sebagai anak yang dikutuk karena kelahirannya sendiri dianggap tidak pantas. Ia menjadi raksasa justru karena ia ditolak oleh tatanan dewa yang seharusnya menjadi ayahnya.

Dari titik ini, ia hadir dalam sesuatu yang struktural, bukan personal: terhadap keteraturan, terhadap segala bentuk penciptaan yang mengklaim diri sebagai pusat yang stabil.

Ketika ia memangsa, ia tidak sedang menjalankan hukuman moral. Ia sedang menegaskan bahwa setiap bentuk keteraturan manusiawi bersifat sementara dan selalu berada di bawah ancaman penelanan.

Penggambaran visualnya memperkuat kesan ini. Tubuh besar, mulut menganga, taring yang menonjol, dan nafsu makan yang tidak pernah puas. Tidak ada keindahan yang diupayakan. Tidak ada simpati yang diminta. Ia hadir sebagai fakta visual tentang kekuatan yang tidak peduli pada proporsi manusia.

Bandingkan dengan dewa-dewa lain yang sering digambarkan dalam postur yang proporsional, wajah yang tenang, atau atribut yang bisa dibaca sebagai tanda kebajikan. Batara Kala menolak semuanya. Ia adalah kelebihan, kelebihan yang mengancam.

Batara Kala berbicara tentang waktu sebagai kekuatan yang impersonal. Waktu tidak membutuhkan alasan untuk bekerja. Ia tidak memerlukan justifikasi moral. Ia hanya berlangsung, dan dalam berlangsungnya, segala yang hidup menjadi bahan.

Dalam konteks ini, antihumanisme Batara Kala bukanlah sekadar penolakan terhadap nilai-nilai tertentu. Ia adalah penolakan terhadap skala itu sendiri. Manusia, dengan seluruh usahanya untuk membangun makna, selalu bekerja dalam skala yang bisa diukur: umur individu, generasi, abad, peradaban.

Batara Kala bekerja dalam skala yang melampaui itu. Ia menelan matahari, bukan sekadar individu. Ia menutup cahaya yang menjadi dasar seluruh aktivitas manusia. Tindakan ini bersifat total. Tidak ada ruang negosiasi di dalamnya.

Di Luar Kendali Manusia

Jika Batara Kala hanya tinggal di dalam cerita, ia mungkin berhenti sebagai tokoh yang menakutkan. Namun kekuatan yang ia wakili terus bekerja. Ia bukanlah monster yang datang dari luar tatanan, melainkan bagian dari tatanan itu sendiri.

Ia adalah nama bagi kekuatan yang menggerakkan perubahan, mengakhiri bentuk-bentuk lama, lalu membuka ruang bagi konfigurasi baru. Yang dimangsa Batara Kala bukan sekadar tubuh manusia, melainkan keyakinan bahwa manusia selalu menjadi pemeran utama dalam panggung kosmos.

Setiap kali manusia berhadapan dengan bencana yang tidak bisa diprediksi sepenuhnya, dengan kematian massal yang tidak memilah, dengan kehancuran infrastruktur yang dibangun selama puluhan tahun dalam hitungan jam, di situlah logika Batara Kala beroperasi. Bukan dalam arti mistis, melainkan dalam arti struktural: ada kekuatan yang bergerak tanpa mempertimbangkan perhitungan manusia.

Teknologi modern sering digambarkan sebagai alat untuk menundukkan alam. Namun setiap kali terjadi gempa besar, banjir bandang, atau pandemi yang menyebar lebih cepat daripada kapasitas respons, klaim itu retak. Manusia tetap menjadi objek dari proses yang lebih besar.

Batara Kala, dengan demikian, adalah pengingat bahwa waktu dan kehancuran tidak pernah berada di bawah kendali penuh. Mereka hanya bisa diantisipasi secara parsial, ditunda untuk sementara, atau dialihkan ke tempat lain. Mereka tidak bisa dihapus.

Dalam beberapa versi cerita, ia tidak hanya menelan orang yang lahir di saat tertentu. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang terus lapar. Laparnya tidak pernah selesai. Setiap kali ia menelan, lapar itu kembali. Tidak ada titik di mana Kala merasa cukup. Tidak ada akhir di mana waktu berhenti bekerja.

Gambaran Sang Batara Kala ini tentunya cenderung menolak romantisasi tentang “perlawanan manusia”. Dalam banyak narasi pemikiran modern, manusia digambarkan sebagai makhluk yang terus melawan kekuatan yang lebih besar: melawan alam, melawan takdir, melawan sistem. Kisah perlawanan itu lantas sering diberipula bumbu dan aura heroisme.

Batara Kala tidak memberi ruang untuk aura semacam itu. Ia tidak peduli apakah manusia melawan atau menyerah. Hasilnya sama: pada akhirnya masuk ke dalam mulut yang sama.

Ketika manusia berbicara tentang “menguasai waktu”, tentang “menciptakan masa depan”, tentang “menjadi subjek sejarah”, ia berbicara dari posisi yang sudah dibatasi oleh waktu itu sendiri. Bahasa, tubuh, dan pikiran manusia sudah berada di dalam arus yang tidak ia buat.

Batara Kala juga terkait dengan konsep “kala” sebagai saat yang berbahaya, saat yang harus dihindari, atau saat yang harus dilalui dengan hati-hati. Orang tidak mencoba menghapus kala. Orang mencoba mengatur gerakan di dalam kala.

Ada perhitungan, ada pantangan, ada sesaji. Semua itu menunjukkan sikap yang praktis: mengakui adanya kekuatan yang lebih besar, lalu menyesuaikan langkah agar tidak langsung tertelan.

Sosok Batara Kala barangkali mengajarkan kita sikap untuk berwaspada dan tanpa ilusi. Manusia tetap membangun, tetap menghitung, tetap berusaha memperpanjang umur struktur yang ia ciptakan. Namun usaha itu dilakukan dengan kesadaran bahwa seluruh bangunan berada di bawah ancaman penelanan.

Ia mengurangi kecenderungan untuk memuja kemajuan sebagai sesuatu yang sakral. Ia mengurangi kecenderungan untuk memandang kematian dan kehancuran sebagai kegagalan moral. Keduanya menjadi bagian dari proses yang lebih besar, proses yang tidak bisa dihapus hanya dengan niat baik atau dengan teknologi yang lebih canggih.

Batara Kala, dalam hal ini, mungkin dapat dianggap lebih jujur karena tidak berpura-pura. Ia tidak menawarkan kesadaran. Ia hanya menelan. Ia menolak segala bentuk penghiburan yang sering menyertai pemikiran tentang manusia. Tidak ada penebusan. Tidak ada akhir yang lebih baik. Hanya siklus, lapar, dan tubuh-tubuh yang pada akhirnya menjadi makanan.

Dengan demikian, di hadapan Sang Batara Kala, manusia bukanlah pusat. Waktu, struktur, dan proses-proses impersonal berjalan tanpa menunggu persetujuan manusia. Batara Kala-lah yang menamai waktu yang tidak bisa dibeli, kehancuran yang tidak bisa dihindari sepenuhnya, dan sirkulasi yang terus berulang di luar keinginan manusia. Ia tidak membutuhkan alasan, dan tidak membutuhkan makna. Ia hanya bekerja.

Dalam dunia yang terus berbicara tentang “kemajuan”, “pemberdayaan”, dan “subjek yang bebas”, gambaran mengenai Batara Kala mungkin terdengar tidak nyaman bagi sebagian banyak orang. Namun justru karena itulah, ia lantas berguna. Ia memotong kecenderungan untuk menempatkan manusia di atas segala sesuatu yang membentuknya. Ia mengingatkan bahwa mulut Kala tetap terbuka, dan bahwa waktu tidak pernah meminta izin sebelum menelan. []